Kamis, 22 Desember 2011

Cara Mempersingkat Panen Ikan Nila dengan Sistem Monosex

Ikan nila menjadi komoditas budidaya perikanan yang cukup banyak dikembangkan oleh petani di Indonesia. Peluang pasar bisnis budidaya ikan nila tidak hanya pasar dalam negeri tetapi juga pasar eksport. Ikan nila sendiri banyak dieksport baik dalam bentuk utuh maupu fillet. Di negara-negara eropa ikan nila banyak dikenal dengan sebutan freshwater chiken. Banyaknya permintaan ikan nila harus diimbangi dengan kapasitas produksi yang semakin besar. Banyak cara dilakukan untuk mempersingkat masa panen ikan nila, diantaranya sistem monosex, potong sirip dan lain-lain.


Sistem monosex merupakan upaya membuat ikan nila berkelamin jantan semua. Ikan Nila jantan memiliki kecenderungan lebih cepat pertumbuhannya, sehingga pemilihan bibit ikan nila jantan untuk dibudidayakan mampu mempersingkat masa panen. Tentunya selain dengan sistem monosex, pemilihan bibit yang akan dibuat monosex juga berkualitas unggul.

Untuk membuat ikan nila menjadi monosex dilakukan dengan memberikan hormon metiltestosteron pada benih nila. Namun harga dari hormon ini cukup mahal, karena harus dimmport dari luar negeri. Saat ini sudah ditemukan hormon metiltestosteron dari testis sapi, yang harganya lebih murah, sehingga proses produksi monosex ikan nila lebih murah.

Cara Membuat Monosex Pada Ikan Nila

Ada 2 (dua) cara/metoda sex reversal yang dapat dilakukan untuk membuat kelamin tunggal, yaitu :

1. System Oral (Pemberian pakan berhormon)

Pada cara ini menjadikan kelamin tunggal dilakukan dengan cara mencampur hormon 17 methyl Testoteron pada pakan yang akan diberikan pada larva. Caranya sebagai berikut :

a.Untuk satu(1)kg pellet (bentuk tepung) memerlukan campuran 60 mg 17 Methyl Testoteron

b.Hormon 17? Methyl Testoteron kemudian dicampur dengan 20 ml alkohol absolud 90% dan aduk sampai rata, kemudian tambahkan 100 – 150 ml alkohol 70% dan aduk hingga homogen

c. Setelah itu semprotkan/tuangkan larutan hormon kedalam pellet sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga rata. Kemudian angin anginkan campuran tersebut hingga kering, tetapi ingat jangan sekali kali mengeringkannya dengan cara menjemurnya langsung dibawah terik matahari, karena akan merusak khasiatnya.

d. Agar dapat bertahan lama masukkan masukkan pellet kedalam plastik dan simpan dalam refrigerator. Dengan demikian pellet dapat bertahan sampai 3 bulan.

e. Pemberian pakan berhormon dilakukan dilakukan selama 21 – 25 hari dimulai pada hari keenam (larva umur 6 hari) dengan dosis pemberian pakan 30% pada minggu I, 20% pada minggu ke II dan 15% pada minggu ke III dari berta total biomassa.

2. SISTEM DIPPING (Perendaman)

Pada cara ini upaya menjadikan kelamin tunggal/sejenis dilakukan dengan cara mencampur larutan hormon 17 Methyl testoreron pada air yang akan digunakan untuk merendam telur pada saat ukuran bintik mata, sedangkan caranya adalah sebagai berikut :

  • Timbang hormon 17 Methyl testoteron sebanyak 75 mg
  • Larutkan hormon dalam alkohol absolud 90% sebanyak 3-4 tetes dan aduk hingga merata
  • Tuangkan larutan hormon kedalam wadah (baskom, akuarium dll) yang berisi 15 liter air dan aduk hingga merata
  • Larutan dapat digunakan untuk 10.000 butir telur (Fase bintik mata), dengan cara merendam larva selama 6 jam kedalam larutan yang diberi aerasi.
  • Selanjutnya larva dipelihara kedalam kolam pemeliharaan yang telah dipersiapkan.
Mengingat begitu banyaknya konsumen penyuka ikan nila dan proses budidayanya yang mudah tentunya akan menumbuhkan minat pembudidaya ikan air tawar . Agar bernilai ekonomis tinggi maka mempersingkat masa panen ikan nila menjadi pilihan yang harus ditempuh. Salah satunya adalah dari aspek perbenihan dalam hal ini perbaikan mutu genetika dengan program monosex.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons